Sedang dalam pingitan Allah untuk pangeranku yg namanya telah Allah ukir di Lauhul Mahfudz.
Entah siapa dan dimana, saya yakin ia sedang memperbaiki dirinya,
mendekatkan diri kepada sang Maha Cinta, sebelum akhirnya ia benar2
mencari lalu menemukan bagian dari tulang rusuknya (ʃ⌣ƪ)
Siapapun kamu, Ku tunggu kau di batas waktu calon imam shalat malamku.<3
Sabtu, 13 Juli 2013
Sabtu, 06 Juli 2013
Cantiknya Seorang Wanita ~
Mungkin pada sepasang matanya yang bening – yang selalu menjeling tajam atau yang kadangkala malu-malu memberikan kerlingan manja. Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menyerlahkan senyuman manis, atau yang sekali-sekala memberikan kucupan mesra di pipi. Atau mungkin juga pada hilai tawanya yang gemersik dan suara manjanya yang boleh melembutkan dan sekaligus menghangatkan perasaan! Sebenarnya sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan wanita. Seribu gurindam belum lengkap untuk mengambarkan keistimewaan Hawa.
Segala-galanya tentang tubuh seorang wanita adalah keindahan. Mata, bibir, hidung telinga, leher, dada, pinggang, pusat, punggung…… semuanya adalah keindahan.Pendek kata sekujur tubuh wanita, dari hujung rambut hingga hujung kaki, adalah keindahan. Setiap inci tubuhnya, termasuk sudut-sudut yang tersembunyi, adalah kecantikan penuh seni.
Sayangnya, kecantikan itu ada ketika-ketikanya, tidak dilihat dari sudut seni. Tubuh wanita dilihat lebih sebagai rangsangan untuk memenuhi naluri semulajadi manusia ; seks.
Dan sudut-sudut berseni ditubuh wanita pun tidak dinikmati atau dihayati secara seni, tetapi dieksploitasi untuk memenuhi dan memuaskan ego lelaki.
Tidak sahaja pada tubuh, apa sahaja yang dilakukan kaum Hawa adalah keindahan. Langkahnya yang longlai boleh menggetarkan jiwa lelaki, lenggang dan hayunan punggungnya boleh mendebarkan. Kenyitan matanya boleh terus menusuk kejantung hati.
Pendek kata, bagi wanita, kecantikan tubuh adalah segala-galanya. Dan mereka akan mempertahankan kecantikan itu. Tetapi, sekali lagi sayang, kecantikan itu tidak akan dapat dipertahankan. Mustahil, Kecantikan itu hanya sementara dan hanya menunggu masa untuk hilang. Bertapa pun dijaga dan dipelihara, bila tiba masanya, kulit akan berkedut, bibir akan kecut. Bila tiba masanya, wajah akan suram, mata akan cengkung.
Selasa, 04 Juni 2013
Sunset Bersama Rosie-Tere Liye
Hari ini selesai membaca novel “SUNSET BERSAMA ROSIE” nya Tere Liye. Sungguh mengagumkan. Beliau selalu bisa membuat pembaca berubah rubah-ekspresi, sedih, bahagia, kagum, kecewa, haru, dan entahlah apalagi namanya.
Dari 425 halaman, ada
beberapa kalimat yang perlu saya pelajari, yang perlu saya mengerti, yang perlu
saya pahami.
“Bagiku waktu selalu
pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu
paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung
dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di
persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang
melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi
yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan,
dan helaan napas tertahan”.
“Tahukah kalian, dalam
banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil.
Mencari kekuatan, inspirasi, dan kebahagiaan melihat mereka”,
“Kalian lihat
kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah.
Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya bisa
menyalakan ekornya semalaman, esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan
kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tetapi
mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak
pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok
akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu.
Memberi terang sekitarnya”.
“Kalian lihat
lilin-lilin merah itu. Indah. Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya
sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri
kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli itu
menyakiti kita. Lilin ini hanya bisa hidup semalam, lantas setelah seluruh
batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.”.
“Kau terlalu mencintai
anak-anak, Tegar. Sama seperti dulu kau mencintai Rosie. Bukankah Oma pernah
bilang, kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya”.
“Kau hanya membuang
waktu disini, Tegar. Anakku, sungguh
tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang. Menyakitkan memang. Tapi
itulah takdir kalian. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu”.
“Itulah bedanya, Tegar.
Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energy
yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu
bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan
sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya.”
“Malam ini biarlah Oma
beritahu kau sebuah kalimat dari sedikit kebijakan hidup. Kau tahu Tegar, dua
puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan
atas apa-apa yang kau kerjakan.”
“Masalahnya bukan
waktu. Bukan waktu. Aku ikhlas,
Tegar. Pergilah. Kau memiliki kehidupan disini. Dan aku ternyata tidak akan
bisa meneguhkan diri untuk menerima sepotong kehidupanmu disini. Ya Tuhan, dulu
aku pikir aku bisa menerimanya, ternyata tidak. Aku egois. Ingin utuh
memilikimu. Tanpa berbagi.”
“Bukankah Uncle selalu
bilang kita tidak boleh melupakan masa lalu. Berdamai tapi tidak melupakan”.
“Kalian akan tumbuh
menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang
menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita
menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh
lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”
“Sepertinya itu tidak
mudah dipahami, Mas Tegar. Mencintai
dengan pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda.”
“ Aku tidak pernah
merasakan bagaimana indahnya dicintai seorang lelaki seperti kau mencintai
Rosie. Entahlah apa itu menyenangkan atau menakutkan.”
“Bagi kami jauh lebih
baik menikah dengan orang yang mencintai, bukan dengan orang yang dicintai.”
“Kau keliru, Sekar.
Kalimat itu dusta. Berikan aku waktu seminggu, kau masih punya kesempatan, asal
kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini. Aku mohon.
Percayalah.”
“Paman Tegar tidak
pernah melarang. Paman Tegar hanya memberikan pengertian. Paman Tegar tidak pernah keberatan. Paman Tegar hanya menjelaskan”.
“Sudah cukup, Mas
Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa
spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang
hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan
? dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita
lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu.”
“Begitulah. Jauh lebih
menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya selintas terjadinya. Bahkan dalam
banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya
terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita dengan mudah membuatnya
terjadi.”
“Percaya atau tidak,
membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat
dibandingkan kalau aku benar-benar tiba disan, bukan ? bisa jadi aku kecewa
setelah benar-benar tiba disana, ternyata semua itu tidak sehebat yang
kubayangkan. Dengan mengurungkan menjejaknya walau tinggal selangkah, semua itu
akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat
seperti yang kubayangkan.”
“Apakah dunia memang
begitu ? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu
menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita
terlalu ingin memilikinya.”
“Kau dulu sering
bertanya apakah kau punya kesempatan
? menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak pernah berani
membuat kesempatan itu. Betapa tidak
beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan
nasib. Tapi itu tidak buruk. Bukan sebuah kesalahan. Maka biarkanlah seperti
itu selamanya. Juga untuk urusan malam ini, biarkanlah seperti itu. Andaikata
takdir itu memang baik untuk kalian, maka aka nada sesuatu yang bisa
membelokkan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka
seperti yang aku bilang, tidak pernah ada mawar
yang tumbuh di tegarnya karang,
Anakku.”
“Siang tadi aku belajar
satu makna kata penting yang seharusnya selalu disampirkan dengan kata
kesempatan, yaitu kata cukup. Oma
benar. Semua gurat takdir ini mungkin kejam. Aku tidak pernah berani membuat kesempatan, karena aku terlanjur
mempercayai sepenuhnya janji kehidupan. Malam ini, biarlah semuanya terasa lengkap.
Sempurna. Aku titipkan semua urusan ini kepada-Mu, Tuhan. Jika Engkau
mengehendaki mawar itu tumbuh di atas tegarnya karang, maka biarlah itu
terjadi.”
“Pagi ini aku paham,
aku mengerti, kalian ditakdirkan bersama sejak kecil. Aku sungguh akan belajar
bahagia menerimanya, dan itu akan lebih mudah dengan pemahaman yang baru. Aku
akan baik-baik saja.”
“Pagi itu aku akhirnya
mengerti arti kata kesempatan. Mawar
akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendakinya.”
Kupu-kupu
berterbangan,
Melintas
di bebungaan
Semerbak
wangi melambai,
Menjanjikan
kebahagiaan
Kabut
memenuhi langit-langit,
Putih
indah mempesona
Embun
merekah kemilau,
Menjanjikan
kebahagiaan
Cahaya
matahari pagi,
Melintas
di sela dedauanan
Berlarik-larik
mengambang
Menjanjikan
kebahagiaan
Selasa, 14 Mei 2013
Membeli Sesuatu ~
Siapa
sih yang tidak ingin HP keren? Laptop canggih? Mobil bagus, pakaian
bagus, sepatu, jam tangan, dan berbagai barang menarik lainnya. Itu
lumrah dan manusiawi. Toh, semua orang punya hak penuh atas keputusan
membeli sesuatu atau tidak. Apalagi jika kita punya uangnya, itu hak
kita, bukan urusan orang lain.
Tetapi my dear, khusus untuk berbagai kebutuhan tersier tersebut (bahkan lebih dari tersier, sudah masuk kebutuhan ke-10), mungkin akan membantu jika kita tahu kaidah membeli atau tidak barang2 tersebut. Mungkin. Kalaupun tidak merasa perlu menggunakan prinsip2 yang baik, lagi2 terserah kita.
Ada beberapa daftar kaidah yang perlu dipertimbangkan, dan ini hanyalah daftar, tidak perlu diributkan. Yang setuju silahkan dipakai, yang tidak setuju, silahkan menulis versi masing2 di profile/blog masing2, jadi tidak perlu berdebat.
1. Fungsi
Apa bedanya antara jam tangan seharga 20ribu dengan 200 juta? Tentu saja beda kalau dilihat dari material, ketahanan, keindahan, dan berbagai faktor lainnya. Tapi secara fungsi, apakah berbeda? Apakah jam tangan 200 juta bisa membuat kita lebih cepat secara waktu dibanding orang lain? Rasa-rasanya tidak. Apakah ada perbedaan antara satu baju dan baju lainnya? Yang seharga 50 ribu dengan 500rb? Tentu saja banyak. Dan boleh jadi berbeda juga secara fungsi, yang satu hanya untuk dipakai sehari2, yang satu lagi baju tebal untuk musim dingin. Semua benda memiliki fungsinya. Bahkan dalam cara berpikir orang2 tertentu, fungsi itu juga berarti untuk terlihat keren, pantas, dan hebat. Jadi, sebelum memutuskan membeli HP keren, canggih, dengan harga 7 juta, tanyakanlah apakah fungsi HP tersebut bagi kita? Apa kebutuhan bagi kita? Apakah digunakan memang untuk full multimedia, atau sekadar sms/telepon/internetan atau mungkin pula hanya untuk main game.
2. Merk
Kalian tahu, semakin ber-merk sebuah benda, maka sejatinya, semakin besar porsi uang yang kita bayarkan justeru hanya untuk membeli nama benda tersebut. Ini logika yang kadang menarik sekali. Orang2 membeli tas mahal Hermes misalnya, terlepas dari fungsi, kebutuhannya, maka, jika harga tas itu 100 juta, sy yakin sekali 90% dibayarkan hanya untuk membayar merk-nya, membeli nama. Hanya 10% untuk tas itu sendiri. Banyak orang yang tahu hal tersebut, tapi tetap saja membelinya. Sebodo amat, kan punya uangnya. Dan saya kira, masing2 berhak atas alasan tersebut. Apakah kita mau membeli nama atau membeli barangnya? Kembali ke kita, karena kitalah yang tahu sekali prinsip2 hidup baik yang harus kita gigit. Dan merk ini akan memiliki turunan ke soal daya tahan, kualitas, dsbgnya. Prinsip ada barang ada harga, selalu jalan di pasar manapun, dari butik mewah New York, hingga ruko di Pasar Baru.
3. Faktor eksternal
Menurut statistik, rata2 kecepatan kendaraan di Jakarta saat ini kurang dari 20km/jam. Lantas kenapa orang2 membeli mobil sport yang bisa melaju hingga 200km/jam? Saya tidak tahu. Mungkin akan digunakan jam 3 subuh, saat jalanan lengang dan bisa dipacu ngebut. Kalau begitu gimana mau pamer? Jam 3 subuh? Kan bisa pamer saat siang hari di tengah jalanan macet. Lagi2 tidak perlu didiskusikan panjang lebar. Semua orang berhak atas keputusan membeli sesuatu. Toh, itu uang masing2. Hal ini juga berlaku untuk kebutuhan2 lainnya. Kita membeli harddisk 1.000 gigabyte, itu keren, tapi kenyataannya berapa persen yang kita pakai? Kita membeli modem dgn kecepatan sekian mbps, tapi kenyataannya jaringan/provider yang ada toh hanya kbps. Juga keperluan2 lain. Memikirkan faktor eksternal di sekita juga sama pentingnya memikirkan fungsi dan merk benda tsb.
Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena ingin pamer, karena itu akan sia-sia. Kita beli mahal2 sebuah benda untuk dipamerkan ke orang yang boleh jadi tidak peduli, tidak suka, dan balas pamer ke kita. Itu komunitas yang aneh, bukan? Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena memaksakan diri. Kebutuhan pokok itu hanya makan, sandang dan papan. Makan yang memadai, sandang yang sederhana, papan yang cukup. Masa' iya kita berhutang demi HP 7 juta? Padahal kita sudah punya HP 2 juta? Tapi kan terserah saya. Iya memang, terserah kitalah. Tapi kebutuhan tersier, bahkan berikut2nya, tidak layak dipenuhi dari berhutang, menggadaikan apalah.
Dan terakhir, pastikan kita tidak membebani orang lain atas keinginan benda2 tersebut. Jangan merepotkan orang tua, merengek, merajuk, bahkan boikot habis2an.
My dear, keinginan hanyalah keinginan. Sekali kita bilang tidak. Maka selesai sudah. Mau apa coba keinginan tersebut? Sudah kita buang jauh2.
*repost dari bang Darwis Tere Liye :)
Tetapi my dear, khusus untuk berbagai kebutuhan tersier tersebut (bahkan lebih dari tersier, sudah masuk kebutuhan ke-10), mungkin akan membantu jika kita tahu kaidah membeli atau tidak barang2 tersebut. Mungkin. Kalaupun tidak merasa perlu menggunakan prinsip2 yang baik, lagi2 terserah kita.
Ada beberapa daftar kaidah yang perlu dipertimbangkan, dan ini hanyalah daftar, tidak perlu diributkan. Yang setuju silahkan dipakai, yang tidak setuju, silahkan menulis versi masing2 di profile/blog masing2, jadi tidak perlu berdebat.
1. Fungsi
Apa bedanya antara jam tangan seharga 20ribu dengan 200 juta? Tentu saja beda kalau dilihat dari material, ketahanan, keindahan, dan berbagai faktor lainnya. Tapi secara fungsi, apakah berbeda? Apakah jam tangan 200 juta bisa membuat kita lebih cepat secara waktu dibanding orang lain? Rasa-rasanya tidak. Apakah ada perbedaan antara satu baju dan baju lainnya? Yang seharga 50 ribu dengan 500rb? Tentu saja banyak. Dan boleh jadi berbeda juga secara fungsi, yang satu hanya untuk dipakai sehari2, yang satu lagi baju tebal untuk musim dingin. Semua benda memiliki fungsinya. Bahkan dalam cara berpikir orang2 tertentu, fungsi itu juga berarti untuk terlihat keren, pantas, dan hebat. Jadi, sebelum memutuskan membeli HP keren, canggih, dengan harga 7 juta, tanyakanlah apakah fungsi HP tersebut bagi kita? Apa kebutuhan bagi kita? Apakah digunakan memang untuk full multimedia, atau sekadar sms/telepon/internetan atau mungkin pula hanya untuk main game.
2. Merk
Kalian tahu, semakin ber-merk sebuah benda, maka sejatinya, semakin besar porsi uang yang kita bayarkan justeru hanya untuk membeli nama benda tersebut. Ini logika yang kadang menarik sekali. Orang2 membeli tas mahal Hermes misalnya, terlepas dari fungsi, kebutuhannya, maka, jika harga tas itu 100 juta, sy yakin sekali 90% dibayarkan hanya untuk membayar merk-nya, membeli nama. Hanya 10% untuk tas itu sendiri. Banyak orang yang tahu hal tersebut, tapi tetap saja membelinya. Sebodo amat, kan punya uangnya. Dan saya kira, masing2 berhak atas alasan tersebut. Apakah kita mau membeli nama atau membeli barangnya? Kembali ke kita, karena kitalah yang tahu sekali prinsip2 hidup baik yang harus kita gigit. Dan merk ini akan memiliki turunan ke soal daya tahan, kualitas, dsbgnya. Prinsip ada barang ada harga, selalu jalan di pasar manapun, dari butik mewah New York, hingga ruko di Pasar Baru.
3. Faktor eksternal
Menurut statistik, rata2 kecepatan kendaraan di Jakarta saat ini kurang dari 20km/jam. Lantas kenapa orang2 membeli mobil sport yang bisa melaju hingga 200km/jam? Saya tidak tahu. Mungkin akan digunakan jam 3 subuh, saat jalanan lengang dan bisa dipacu ngebut. Kalau begitu gimana mau pamer? Jam 3 subuh? Kan bisa pamer saat siang hari di tengah jalanan macet. Lagi2 tidak perlu didiskusikan panjang lebar. Semua orang berhak atas keputusan membeli sesuatu. Toh, itu uang masing2. Hal ini juga berlaku untuk kebutuhan2 lainnya. Kita membeli harddisk 1.000 gigabyte, itu keren, tapi kenyataannya berapa persen yang kita pakai? Kita membeli modem dgn kecepatan sekian mbps, tapi kenyataannya jaringan/provider yang ada toh hanya kbps. Juga keperluan2 lain. Memikirkan faktor eksternal di sekita juga sama pentingnya memikirkan fungsi dan merk benda tsb.
Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena ingin pamer, karena itu akan sia-sia. Kita beli mahal2 sebuah benda untuk dipamerkan ke orang yang boleh jadi tidak peduli, tidak suka, dan balas pamer ke kita. Itu komunitas yang aneh, bukan? Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena memaksakan diri. Kebutuhan pokok itu hanya makan, sandang dan papan. Makan yang memadai, sandang yang sederhana, papan yang cukup. Masa' iya kita berhutang demi HP 7 juta? Padahal kita sudah punya HP 2 juta? Tapi kan terserah saya. Iya memang, terserah kitalah. Tapi kebutuhan tersier, bahkan berikut2nya, tidak layak dipenuhi dari berhutang, menggadaikan apalah.
Dan terakhir, pastikan kita tidak membebani orang lain atas keinginan benda2 tersebut. Jangan merepotkan orang tua, merengek, merajuk, bahkan boikot habis2an.
My dear, keinginan hanyalah keinginan. Sekali kita bilang tidak. Maka selesai sudah. Mau apa coba keinginan tersebut? Sudah kita buang jauh2.
*repost dari bang Darwis Tere Liye :)
Sabtu, 04 Mei 2013
Catatan Kecil Untukku ~
Kehilangan mengajarkan aku arti memiliki,
Kekecewaan mengajarkan aku arti berhati-hati,
Kesepian mengajarkan aku arti kebersamaan,
Percaya !!
Dibalik setiap yang terjadi, selalu ada hikmah yang bisa dipetik. bukankah untuk menguatkan langkah ke depan terkadang kita harus mundur selangkah ke belakang ?
kesalahan dan kegagalan seharusnya membuat kita jadi lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, lebih yakin bahwa semuanya akan lebih baik. dan memang itulah harga mati dari sebuah proses menuju kedewasaan.
''Be better person today and next !''
^__^
Kekecewaan mengajarkan aku arti berhati-hati,
Kesepian mengajarkan aku arti kebersamaan,
Percaya !!
Dibalik setiap yang terjadi, selalu ada hikmah yang bisa dipetik. bukankah untuk menguatkan langkah ke depan terkadang kita harus mundur selangkah ke belakang ?
kesalahan dan kegagalan seharusnya membuat kita jadi lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, lebih yakin bahwa semuanya akan lebih baik. dan memang itulah harga mati dari sebuah proses menuju kedewasaan.
''Be better person today and next !''
^__^
Rabu, 30 Januari 2013
Berkaca pada Hati
Benci rasanya...
saat tau ternyata hanya menjadi pelarian yang tertunda
sakit jadinya...
mengingat segala kenangan yang tak terampungkan
saat ku telaah seribu peristiwa
ku punyai sebentuk kesimpulan
jika ternyata...
cinta sesaatmu hanya sebuah pelarian
bukan egois kata itu tercipta
namun sebentuk realita yang sulit dipungkiri..
tak usah berkata
bahwa ada yang telah melupakan
karna kita sama-sama terlupakan
terlupakan pada sebuah cinta
yang harusnya cinta itu....
puncak dari samudera ketulusan
Kamis, 10 Januari 2013
Aku menyayangi semuanya
Ada
seribu bunga
selaksa senyum
dan sejuta hati
dengan pesona
mewangi
pada setiap kelopak
tapi aku
hanya memiliki
sebuah hati
dan sejuta keinginan
untuk menyayangi
pada setiap kuntum bunga
bukannya aku
ingin membagi hatiku
apalagi cintaku
karena aku hanya
memiliki satu cinta
untuk menyayangi semuanya
selaksa senyum
dan sejuta hati
dengan pesona
mewangi
pada setiap kelopak
tapi aku
hanya memiliki
sebuah hati
dan sejuta keinginan
untuk menyayangi
pada setiap kuntum bunga
bukannya aku
ingin membagi hatiku
apalagi cintaku
karena aku hanya
memiliki satu cinta
untuk menyayangi semuanya
Langganan:
Postingan (Atom)









