Selasa, 04 Juni 2013

Sunset Bersama Rosie-Tere Liye






Hari ini selesai membaca novel “SUNSET BERSAMA ROSIE” nya Tere Liye. Sungguh mengagumkan. Beliau selalu bisa membuat pembaca berubah rubah-ekspresi, sedih, bahagia, kagum, kecewa, haru, dan entahlah apalagi namanya.

Dari 425 halaman, ada beberapa kalimat yang perlu saya pelajari, yang perlu saya mengerti, yang perlu saya pahami.

“Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan”.

“Tahukah kalian, dalam banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil. Mencari kekuatan, inspirasi, dan kebahagiaan melihat mereka”,

“Kalian lihat kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah. Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya bisa menyalakan ekornya semalaman, esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya”.

“Kalian lihat lilin-lilin merah itu. Indah. Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli itu menyakiti kita. Lilin ini hanya bisa hidup semalam, lantas setelah seluruh batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.”.

“Kau terlalu mencintai anak-anak, Tegar. Sama seperti dulu kau mencintai Rosie. Bukankah Oma pernah bilang, kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya”.
“Kau hanya membuang waktu disini, Tegar. Anakku, sungguh tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang. Menyakitkan memang. Tapi itulah takdir kalian. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu”.

“Itulah bedanya, Tegar. Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energy yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya.”

“Malam ini biarlah Oma beritahu kau sebuah kalimat dari sedikit kebijakan hidup. Kau tahu Tegar, dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan atas apa-apa yang kau kerjakan.”

“Masalahnya bukan waktu. Bukan waktu. Aku ikhlas, Tegar. Pergilah. Kau memiliki kehidupan disini. Dan aku ternyata tidak akan bisa meneguhkan diri untuk menerima sepotong kehidupanmu disini. Ya Tuhan, dulu aku pikir aku bisa menerimanya, ternyata tidak. Aku egois. Ingin utuh memilikimu. Tanpa berbagi.”

“Bukankah Uncle selalu bilang kita tidak boleh melupakan masa lalu. Berdamai tapi tidak melupakan”.

“Kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”

“Sepertinya itu tidak mudah dipahami, Mas Tegar. Mencintai dengan pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda.”

“ Aku tidak pernah merasakan bagaimana indahnya dicintai seorang lelaki seperti kau mencintai Rosie. Entahlah apa itu menyenangkan atau menakutkan.”
“Bagi kami jauh lebih baik menikah dengan orang yang mencintai, bukan dengan orang yang dicintai.”

“Kau keliru, Sekar. Kalimat itu dusta. Berikan aku waktu seminggu, kau masih punya kesempatan, asal kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini. Aku mohon. Percayalah.”

“Paman Tegar tidak pernah melarang. Paman Tegar hanya memberikan pengertian. Paman Tegar tidak pernah keberatan. Paman Tegar hanya menjelaskan”.

“Sudah cukup, Mas Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan ? dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu.”

“Begitulah. Jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya selintas terjadinya. Bahkan dalam banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita dengan mudah membuatnya terjadi.”

“Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba disan, bukan ? bisa jadi aku kecewa setelah benar-benar tiba disana, ternyata semua itu tidak sehebat yang kubayangkan. Dengan mengurungkan menjejaknya walau tinggal selangkah, semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan.”

“Apakah dunia memang begitu ? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya.”

“Kau dulu sering bertanya apakah kau punya kesempatan ? menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. Betapa tidak beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan nasib. Tapi itu tidak buruk. Bukan sebuah kesalahan. Maka biarkanlah seperti itu selamanya. Juga untuk urusan malam ini, biarkanlah seperti itu. Andaikata takdir itu memang baik untuk kalian, maka aka nada sesuatu yang bisa membelokkan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka seperti yang aku bilang, tidak pernah ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang, Anakku.”

“Siang tadi aku belajar satu makna kata penting yang seharusnya selalu disampirkan dengan kata kesempatan, yaitu kata cukup. Oma benar. Semua gurat takdir ini mungkin kejam. Aku tidak pernah berani membuat kesempatan, karena aku terlanjur mempercayai sepenuhnya janji kehidupan. Malam ini, biarlah semuanya terasa lengkap. Sempurna. Aku titipkan semua urusan ini kepada-Mu, Tuhan. Jika Engkau mengehendaki mawar itu tumbuh di atas tegarnya karang, maka biarlah itu terjadi.”

“Pagi ini aku paham, aku mengerti, kalian ditakdirkan bersama sejak kecil. Aku sungguh akan belajar bahagia menerimanya, dan itu akan lebih mudah dengan pemahaman yang baru. Aku akan baik-baik saja.”

“Pagi itu aku akhirnya mengerti arti kata kesempatan. Mawar akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendakinya.”

Kupu-kupu berterbangan,
Melintas di bebungaan
Semerbak wangi melambai,
Menjanjikan kebahagiaan
Kabut memenuhi langit-langit,
Putih indah mempesona
Embun merekah kemilau,
Menjanjikan kebahagiaan
Cahaya matahari pagi,
Melintas di sela dedauanan
Berlarik-larik mengambang
Menjanjikan kebahagiaan

0 komentar:

Posting Komentar