Hari ini selesai membaca novel “SUNSET BERSAMA ROSIE” nya Tere Liye. Sungguh mengagumkan. Beliau selalu bisa membuat pembaca berubah rubah-ekspresi, sedih, bahagia, kagum, kecewa, haru, dan entahlah apalagi namanya.
Dari 425 halaman, ada
beberapa kalimat yang perlu saya pelajari, yang perlu saya mengerti, yang perlu
saya pahami.
“Bagiku waktu selalu
pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu
paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung
dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di
persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang
melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi
yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan,
dan helaan napas tertahan”.
“Tahukah kalian, dalam
banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil.
Mencari kekuatan, inspirasi, dan kebahagiaan melihat mereka”,
“Kalian lihat
kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah.
Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya bisa
menyalakan ekornya semalaman, esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan
kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tetapi
mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak
pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok
akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu.
Memberi terang sekitarnya”.
“Kalian lihat
lilin-lilin merah itu. Indah. Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya
sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri
kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli itu
menyakiti kita. Lilin ini hanya bisa hidup semalam, lantas setelah seluruh
batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.”.
“Kau terlalu mencintai
anak-anak, Tegar. Sama seperti dulu kau mencintai Rosie. Bukankah Oma pernah
bilang, kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya”.
“Kau hanya membuang
waktu disini, Tegar. Anakku, sungguh
tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang. Menyakitkan memang. Tapi
itulah takdir kalian. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu”.
“Itulah bedanya, Tegar.
Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energy
yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu
bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan
sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya.”
“Malam ini biarlah Oma
beritahu kau sebuah kalimat dari sedikit kebijakan hidup. Kau tahu Tegar, dua
puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan
atas apa-apa yang kau kerjakan.”
“Masalahnya bukan
waktu. Bukan waktu. Aku ikhlas,
Tegar. Pergilah. Kau memiliki kehidupan disini. Dan aku ternyata tidak akan
bisa meneguhkan diri untuk menerima sepotong kehidupanmu disini. Ya Tuhan, dulu
aku pikir aku bisa menerimanya, ternyata tidak. Aku egois. Ingin utuh
memilikimu. Tanpa berbagi.”
“Bukankah Uncle selalu
bilang kita tidak boleh melupakan masa lalu. Berdamai tapi tidak melupakan”.
“Kalian akan tumbuh
menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang
menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita
menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh
lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”
“Sepertinya itu tidak
mudah dipahami, Mas Tegar. Mencintai
dengan pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda.”
“ Aku tidak pernah
merasakan bagaimana indahnya dicintai seorang lelaki seperti kau mencintai
Rosie. Entahlah apa itu menyenangkan atau menakutkan.”
“Bagi kami jauh lebih
baik menikah dengan orang yang mencintai, bukan dengan orang yang dicintai.”
“Kau keliru, Sekar.
Kalimat itu dusta. Berikan aku waktu seminggu, kau masih punya kesempatan, asal
kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini. Aku mohon.
Percayalah.”
“Paman Tegar tidak
pernah melarang. Paman Tegar hanya memberikan pengertian. Paman Tegar tidak pernah keberatan. Paman Tegar hanya menjelaskan”.
“Sudah cukup, Mas
Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa
spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang
hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan
? dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita
lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu.”
“Begitulah. Jauh lebih
menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya selintas terjadinya. Bahkan dalam
banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya
terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita dengan mudah membuatnya
terjadi.”
“Percaya atau tidak,
membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat
dibandingkan kalau aku benar-benar tiba disan, bukan ? bisa jadi aku kecewa
setelah benar-benar tiba disana, ternyata semua itu tidak sehebat yang
kubayangkan. Dengan mengurungkan menjejaknya walau tinggal selangkah, semua itu
akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat
seperti yang kubayangkan.”
“Apakah dunia memang
begitu ? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu
menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita
terlalu ingin memilikinya.”
“Kau dulu sering
bertanya apakah kau punya kesempatan
? menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak pernah berani
membuat kesempatan itu. Betapa tidak
beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan
nasib. Tapi itu tidak buruk. Bukan sebuah kesalahan. Maka biarkanlah seperti
itu selamanya. Juga untuk urusan malam ini, biarkanlah seperti itu. Andaikata
takdir itu memang baik untuk kalian, maka aka nada sesuatu yang bisa
membelokkan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka
seperti yang aku bilang, tidak pernah ada mawar
yang tumbuh di tegarnya karang,
Anakku.”
“Siang tadi aku belajar
satu makna kata penting yang seharusnya selalu disampirkan dengan kata
kesempatan, yaitu kata cukup. Oma
benar. Semua gurat takdir ini mungkin kejam. Aku tidak pernah berani membuat kesempatan, karena aku terlanjur
mempercayai sepenuhnya janji kehidupan. Malam ini, biarlah semuanya terasa lengkap.
Sempurna. Aku titipkan semua urusan ini kepada-Mu, Tuhan. Jika Engkau
mengehendaki mawar itu tumbuh di atas tegarnya karang, maka biarlah itu
terjadi.”
“Pagi ini aku paham,
aku mengerti, kalian ditakdirkan bersama sejak kecil. Aku sungguh akan belajar
bahagia menerimanya, dan itu akan lebih mudah dengan pemahaman yang baru. Aku
akan baik-baik saja.”
“Pagi itu aku akhirnya
mengerti arti kata kesempatan. Mawar
akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendakinya.”
Kupu-kupu
berterbangan,
Melintas
di bebungaan
Semerbak
wangi melambai,
Menjanjikan
kebahagiaan
Kabut
memenuhi langit-langit,
Putih
indah mempesona
Embun
merekah kemilau,
Menjanjikan
kebahagiaan
Cahaya
matahari pagi,
Melintas
di sela dedauanan
Berlarik-larik
mengambang
Menjanjikan
kebahagiaan





0 komentar:
Posting Komentar