Siapa
sih yang tidak ingin HP keren? Laptop canggih? Mobil bagus, pakaian
bagus, sepatu, jam tangan, dan berbagai barang menarik lainnya. Itu
lumrah dan manusiawi. Toh, semua orang punya hak penuh atas keputusan
membeli sesuatu atau tidak. Apalagi jika kita punya uangnya, itu hak
kita, bukan urusan orang lain.
Tetapi my dear, khusus untuk berbagai kebutuhan tersier
tersebut (bahkan lebih dari tersier, sudah masuk kebutuhan ke-10),
mungkin akan membantu jika kita tahu kaidah membeli atau tidak barang2
tersebut. Mungkin. Kalaupun tidak merasa perlu menggunakan prinsip2 yang
baik, lagi2 terserah kita.
Ada beberapa daftar kaidah
yang perlu dipertimbangkan, dan ini hanyalah daftar, tidak perlu
diributkan. Yang setuju silahkan dipakai, yang tidak setuju, silahkan
menulis versi masing2 di profile/blog masing2, jadi tidak perlu berdebat.
1. Fungsi
Apa bedanya antara
jam tangan seharga 20ribu dengan 200 juta? Tentu saja beda kalau dilihat
dari material, ketahanan, keindahan, dan berbagai faktor lainnya. Tapi
secara fungsi, apakah berbeda? Apakah jam tangan 200 juta bisa membuat
kita lebih cepat secara waktu dibanding orang lain? Rasa-rasanya tidak.
Apakah ada perbedaan antara satu baju dan baju lainnya? Yang seharga 50
ribu dengan 500rb? Tentu saja banyak. Dan boleh jadi berbeda juga secara
fungsi, yang satu hanya untuk dipakai sehari2, yang satu lagi baju
tebal untuk musim dingin. Semua benda memiliki fungsinya. Bahkan dalam
cara berpikir orang2 tertentu, fungsi itu juga berarti untuk terlihat
keren, pantas, dan hebat. Jadi, sebelum memutuskan membeli HP keren,
canggih, dengan harga 7 juta, tanyakanlah apakah fungsi HP tersebut bagi
kita? Apa kebutuhan bagi kita? Apakah digunakan memang untuk full
multimedia, atau sekadar sms/telepon/internetan atau mungkin pula hanya
untuk main game.
2. Merk
Kalian tahu, semakin ber-merk
sebuah benda, maka sejatinya, semakin besar porsi uang yang kita
bayarkan justeru hanya untuk membeli nama benda tersebut. Ini logika
yang kadang menarik sekali. Orang2 membeli tas mahal Hermes misalnya,
terlepas dari fungsi, kebutuhannya, maka, jika harga tas itu 100 juta,
sy yakin sekali 90% dibayarkan hanya untuk membayar merk-nya, membeli
nama. Hanya 10% untuk tas itu sendiri. Banyak orang yang tahu hal
tersebut, tapi tetap saja membelinya. Sebodo amat, kan punya uangnya.
Dan saya kira, masing2 berhak atas alasan tersebut. Apakah kita mau
membeli nama atau membeli barangnya? Kembali ke kita, karena kitalah
yang tahu sekali prinsip2 hidup baik yang harus kita gigit. Dan merk ini
akan memiliki turunan ke soal daya tahan, kualitas, dsbgnya. Prinsip
ada barang ada harga, selalu jalan di pasar manapun, dari butik mewah
New York, hingga ruko di Pasar Baru.
3. Faktor eksternal
Menurut statistik, rata2 kecepatan kendaraan di Jakarta saat ini kurang
dari 20km/jam. Lantas kenapa orang2 membeli mobil sport yang bisa melaju
hingga 200km/jam? Saya tidak tahu. Mungkin akan digunakan jam 3 subuh,
saat jalanan lengang dan bisa dipacu ngebut. Kalau begitu gimana mau
pamer? Jam 3 subuh? Kan bisa pamer saat siang hari di tengah jalanan
macet. Lagi2 tidak perlu didiskusikan panjang lebar. Semua orang berhak
atas keputusan membeli sesuatu. Toh, itu uang masing2. Hal ini juga
berlaku untuk kebutuhan2 lainnya. Kita membeli harddisk 1.000 gigabyte,
itu keren, tapi kenyataannya berapa persen yang kita pakai? Kita membeli
modem dgn kecepatan sekian mbps, tapi kenyataannya jaringan/provider
yang ada toh hanya kbps. Juga keperluan2 lain. Memikirkan faktor
eksternal di sekita juga sama pentingnya memikirkan fungsi dan merk
benda tsb.
Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena ingin
pamer, karena itu akan sia-sia. Kita beli mahal2 sebuah benda untuk
dipamerkan ke orang yang boleh jadi tidak peduli, tidak suka, dan balas
pamer ke kita. Itu komunitas yang aneh, bukan? Pastikan kita tidak
membeli sesuatu karena memaksakan diri. Kebutuhan pokok itu hanya makan,
sandang dan papan. Makan yang memadai, sandang yang sederhana, papan
yang cukup. Masa' iya kita berhutang demi HP 7 juta? Padahal kita sudah
punya HP 2 juta? Tapi kan terserah saya. Iya memang, terserah kitalah.
Tapi kebutuhan tersier, bahkan berikut2nya, tidak layak dipenuhi dari
berhutang, menggadaikan apalah.
Dan terakhir, pastikan kita
tidak membebani orang lain atas keinginan benda2 tersebut. Jangan
merepotkan orang tua, merengek, merajuk, bahkan boikot habis2an.
My dear, keinginan hanyalah keinginan. Sekali kita bilang
tidak. Maka selesai sudah. Mau apa coba keinginan tersebut? Sudah kita
buang jauh2.
*repost dari bang Darwis Tere Liye :)
Selasa, 14 Mei 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar