Selasa, 14 Mei 2013

Membeli Sesuatu ~

Siapa sih yang tidak ingin HP keren? Laptop canggih? Mobil bagus, pakaian bagus, sepatu, jam tangan, dan berbagai barang menarik lainnya. Itu lumrah dan manusiawi. Toh, semua orang punya hak penuh atas keputusan membeli sesuatu atau tidak. Apalagi jika kita punya uangnya, itu hak kita, bukan urusan orang lain.

Tetapi my dear, khusus untuk berbagai kebutuhan tersier tersebut (bahkan lebih dari tersier, sudah masuk kebutuhan ke-10), mungkin akan membantu jika kita tahu kaidah membeli atau tidak barang2 tersebut. Mungkin. Kalaupun tidak merasa perlu menggunakan prinsip2 yang baik, lagi2 terserah kita.

Ada beberapa daftar kaidah yang perlu dipertimbangkan, dan ini hanyalah daftar, tidak perlu diributkan. Yang setuju silahkan dipakai, yang tidak setuju, silahkan menulis versi masing2 di profile/blog masing2, jadi tidak perlu berdebat.


1. Fungsi
Apa bedanya antara jam tangan seharga 20ribu dengan 200 juta? Tentu saja beda kalau dilihat dari material, ketahanan, keindahan, dan berbagai faktor lainnya. Tapi secara fungsi, apakah berbeda? Apakah jam tangan 200 juta bisa membuat kita lebih cepat secara waktu dibanding orang lain? Rasa-rasanya tidak. Apakah ada perbedaan antara satu baju dan baju lainnya? Yang seharga 50 ribu dengan 500rb? Tentu saja banyak. Dan boleh jadi berbeda juga secara fungsi, yang satu hanya untuk dipakai sehari2, yang satu lagi baju tebal untuk musim dingin. Semua benda memiliki fungsinya. Bahkan dalam cara berpikir orang2 tertentu, fungsi itu juga berarti untuk terlihat keren, pantas, dan hebat. Jadi, sebelum memutuskan membeli HP keren, canggih, dengan harga 7 juta, tanyakanlah apakah fungsi HP tersebut bagi kita? Apa kebutuhan bagi kita? Apakah digunakan memang untuk full multimedia, atau sekadar sms/telepon/internetan atau mungkin pula hanya untuk main game.

2. Merk
Kalian tahu, semakin ber-merk sebuah benda, maka sejatinya, semakin besar porsi uang yang kita bayarkan justeru hanya untuk membeli nama benda tersebut. Ini logika yang kadang menarik sekali. Orang2 membeli tas mahal Hermes misalnya, terlepas dari fungsi, kebutuhannya, maka, jika harga tas itu 100 juta, sy yakin sekali 90% dibayarkan hanya untuk membayar merk-nya, membeli nama. Hanya 10% untuk tas itu sendiri. Banyak orang yang tahu hal tersebut, tapi tetap saja membelinya. Sebodo amat, kan punya uangnya. Dan saya kira, masing2 berhak atas alasan tersebut. Apakah kita mau membeli nama atau membeli barangnya? Kembali ke kita, karena kitalah yang tahu sekali prinsip2 hidup baik yang harus kita gigit. Dan merk ini akan memiliki turunan ke soal daya tahan, kualitas, dsbgnya. Prinsip ada barang ada harga, selalu jalan di pasar manapun, dari butik mewah New York, hingga ruko di Pasar Baru.

3. Faktor eksternal
Menurut statistik, rata2 kecepatan kendaraan di Jakarta saat ini kurang dari 20km/jam. Lantas kenapa orang2 membeli mobil sport yang bisa melaju hingga 200km/jam? Saya tidak tahu. Mungkin akan digunakan jam 3 subuh, saat jalanan lengang dan bisa dipacu ngebut. Kalau begitu gimana mau pamer? Jam 3 subuh? Kan bisa pamer saat siang hari di tengah jalanan macet. Lagi2 tidak perlu didiskusikan panjang lebar. Semua orang berhak atas keputusan membeli sesuatu. Toh, itu uang masing2. Hal ini juga berlaku untuk kebutuhan2 lainnya. Kita membeli harddisk 1.000 gigabyte, itu keren, tapi kenyataannya berapa persen yang kita pakai? Kita membeli modem dgn kecepatan sekian mbps, tapi kenyataannya jaringan/provider yang ada toh hanya kbps. Juga keperluan2 lain. Memikirkan faktor eksternal di sekita juga sama pentingnya memikirkan fungsi dan merk benda tsb.

Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena ingin pamer, karena itu akan sia-sia. Kita beli mahal2 sebuah benda untuk dipamerkan ke orang yang boleh jadi tidak peduli, tidak suka, dan balas pamer ke kita. Itu komunitas yang aneh, bukan? Pastikan kita tidak membeli sesuatu karena memaksakan diri. Kebutuhan pokok itu hanya makan, sandang dan papan. Makan yang memadai, sandang yang sederhana, papan yang cukup. Masa' iya kita berhutang demi HP 7 juta? Padahal kita sudah punya HP 2 juta? Tapi kan terserah saya. Iya memang, terserah kitalah. Tapi kebutuhan tersier, bahkan berikut2nya, tidak layak dipenuhi dari berhutang, menggadaikan apalah.

Dan terakhir, pastikan kita tidak membebani orang lain atas keinginan benda2 tersebut. Jangan merepotkan orang tua, merengek, merajuk, bahkan boikot habis2an.

My dear, keinginan hanyalah keinginan. Sekali kita bilang tidak. Maka selesai sudah. Mau apa coba keinginan tersebut? Sudah kita buang jauh2.


*repost dari bang Darwis Tere Liye :)

0 komentar:

Posting Komentar