Sabtu, 07 Desember 2013

Duri dalam Daging ~

Aku adalah duri dalam daging
Aku adalah "luar" yang indah tapi "dalam" nya busuk.
Terimakasih untuk hari ini, 
Terimakasih untuk luka yang kau beri, 
Semoga dengan ucapan itu, saya bisa merubah diri menjadi "luar" yang indah, kemudian "dalam" yang indah jua :')

Sabtu, 21 September 2013

Allah, siapakah jodohku ?

"Jodoh"
yah inilah misteri yang kan senantiasa mengikuti setiap orang sampai kapanpun termasuk pribadi saya.
Seakan tiada habisnya membicarakan masalah ini.
Fatwa dan penjelasan para 'alim pun belum bisa memberikan kepuasan dihati setiap insan.
Apakah jodoh adalah murni taqdir Allah yang tiada hubungannya dengan ikhtiar manusia?
Apakah murni ikhtiar manusia dan tidak ada hubungannya dengan Allah?
Ataukah kedua-duanya berperan?

Bahwa jodoh berkaitan dengan taqdir adalah benar.
Bahwa kita pada dasarnya sudah ditaqdirkan oleh Allah memiliki jodoh masing-masing adalah hal yang harus kita yakini.
Tapi yang menjadi persoalan adalah siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi jodoh kita??
It's mysterious problem

Jika kita membicarakan taqdir/kehendak Allah maka pada dasarnya ada dua yaitu,
Apa yang dikehendaki Allah "kepada" kita
dan apa yang dikehendaki Allah "dari" kita.
"Kepada" tidak sama dengan "dari".
Apa yang dikehendaki Allah "kepada" kita adalah sebuah rahasia Allah, biasanya disebut `taqdir mutlak`.
Kita tidak diberi tahu sebelum hal itu terjadi.
Siapa jodoh saya?
Kapan saya mati?
Kenapa saya kurus?
Kenapa saya berkulit coklat?
Kenapa saya lahir di Indonesia?
Semua itu adalah mutlak rahasia Allah.
Itu adalah urusan Allah, hak prerogatif Allah sebagai Rabb Yang Maha Kuasa.
Masalah ini bukan domain manusia
Memikirkan dan mempertanyakannya tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan bisa jadi akan melahirkan kesulitan yang mengantarkan pada kesesatan dan kebinasaan.

Tugas kita sebagai makhlukNya adalah memikirkan dan mengikhtiarkan kehendak Allah yang kedua,
yaitu apa yang dikehendaki Allah "dari" kita.
Dan biasanya disebut taqdir `ikhtiari`
yaitu ketetapan Allah yang ada kaitannya dengan usaha manusia.
Inilah tugas kita sebagai makhluk.
Allah menghendaki kita menuntut ilmu, silaturahmi, shalat, dzikir, berdo'a, berusaha dan lain-lain.
Termasuk dalam hal jodoh,
Allah menghendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing.
Sebelum mendapatkannya,
kita tidak tahu pasti siapa jodoh kita.
Rahasianya masih tersimpan rapih dalam database Allah di Lauhul Mahfuzh.
Untuk mengetahui siapa jodoh kita,
maka kita dituntut melakukan usaha, ikhtiar dan upaya.

Jodoh adalah taqdir yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia.
Jodoh bukan taqdir mutlak,
namun taqdir ikhtiar.
Sehingga kaidah dalam menemukan jodoh adalah usaha/ikhtiar secara syar'i "dan" tawakkal.
Disini sengaja saya menggunakan kata penghubung "dan" bukan "lalu", "kemudian", atau "setelah itu".
Artinya tawakkal, pasrah dan do'a harus terus mengiringi usaha kita dalam menemukan jodoh tersebut.
Dan ternyata inilah yang akan dinilai oleh Allah,
yaitu proses usaha atau ikhtiar...
dan tawakkal kita kepada Allah.
Dengan demikian hasil dari proses tersebut akan kita pandang sebagai "yang terbaik".
Hati kitapun akan ikhlas menerima sehingga tidak ada istilah sakit hati, patah hati maupun duka hati.

Siapa jodoh ku?

Untuk mengetahui, tepatnya menebak siapa jodoh kita dalam bahasa ikhtiarnya,
maka sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengetahui
"siapa diri kita"
Sangat sulit menebak siapa jodohnya bagi orang yang belum mengenal dirinya.
Oleh karena itu orang yang sudah faham siapa dirinya akan mudah menemukan jodohnya.
Jadi ikhtiar yang harus kita lakukan pertama kali agar mendapatkan jodoh "terbaik" adalah "memperbaiki diri".
Karena Allah telah berjanji

"Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula"

Siapa jodoh kita?
tidak begitu masalah karena memang kita tidak pernah tahu siapa sosok yang telah dipilihkan oleh Allah untuk mendampingi kita.
Yang menjadi masalah adalah penerimaan kita kepada sosok yang menjadi jodoh kita tersebut.
Apakah hati kita menerimanya dengan ikhlas, kemudian mensyukurinya dengan prasangka baik kepada Allah
atau justru hati kita menolak dan mengingkarinya dengan prasangka buruk kepadaNya??
Mungkin kelak jodoh kita bukanlah sosok yang selama ini menjadi dambaan dan pujaan hati.
Mungkin jodoh kita bukanlah yang kita idam-idamkan.
Mungkin jodoh kita bukanlah yang memiliki kesempurnaan fisik dan atau ekonomi.
Mungkin.. mungkin.. dan beragam mungkin lainnya yang tidak sesuai dengan hati kita.
Tapi pernahkah kita membayangkan bahwa ternyata dia adalah sosok manusia terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita?

"Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kita.
Juga boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal ia amat buruk buruk bagi kita.
Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak"

Allahu a'lam

Rabu, 11 September 2013

BAHAGIA ITU S.E.D.E.R.H.A.N.A :)

Bagi sebagian orang beranggapan bahwa bahagia itu adalah ketika seseorang bergelimpangan harta membeli apa yang diinginkan dan terpenuhi semua kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
Secara realistis memang betul secara kasar hidup susah itu bisa buat menderita, tapi tidak sepenuhnya susah itu menderita. Bila kita maknai kesulitan adalah pembelajaran hidup untuk sabar dan senantiasa bersyukur. Karena dengan cara itu kita mengerti ada bahwa Tuhan sedang menuntun, dan itu kebahagiaan.

Arti Bahagia buat diri saya sendiri adalah ketika hati saya bergetar, senyum mengembang, dan pikiran tenang.
Semua itu saya dapatkan dari hal-hal kecil yang terjadi pada saya, mungkin secara tidak sadar kalian pun merasakan hal yang sama. Coba resapi hal-hal di bawah ini :
  1. Bahagia ketika kita melihat lengkungan senyum di wajah orang yang kita sayang ; itu sederhana
  2. Bahagia ketika seseorang tak segan menggegam erat tangan kita ; itu sederhana
  3. Bahagia ketika kita sedang menghadapi hal rumit, seseorang memberikan secarik kertas bertuliskan 'SEMANGAT!'  ; itu sederhana
  4. Bahagia ketika kita sedang sedih, seseorang merangkul kita dan menepuk pundak kita ; itu sederhana
  5. Bahagia ketika lapar melanda, seseorang sigap membuatkan telur dadar ; itu sederhana
  6. Bahagia ketika akan bepergian, seseorang mengirimkan pesan singkat bertuliskan "hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan. Aku akan merindukanmu " ; itu sederhana
  7. Bahagia ketika saat hendak keluar rumah dan pamit, seseorang mengantar sampai pintu; itu sederhana.
  8. Bahagia ketika kita terjatuh, luka dan berdarah, seseorang senantiasa membersihkan luka lalu membalutnya dengan perban ; itu sederhana
  9. Bahagia ketika seseorang menyapa dan menyebut nama kita ; itu sederhana
  10. Bahagia ketika seseorang menghapus setiap tetesan airmata yang jatuh ; itu sederhana
  11. Bahagia ketika seseorang mengatakan "kamu memang sahabat saya!" ; itu sederhana
  12. Bahagia ketika seseorang membuatkan teh manis hangat di pagi hari ; itu sederhana.
  13. Bahagia ketika seseorang membagi dua makanan yang dia punya untuk kita ; itu sederhana
  14. Bahagia ketika kita menghadapi kesulitan seseorang datang untuk mengulurkan tangannya ; itu sederhana.
  15. Bahagia ketika tertidur dalam dinginnya malam dan seseorang merebahkan selimut diatas tubuh kita ; itu sederhana 
  16. Bahagia ketika saat ujian dimulai lalu pensil kita patah, seseorang memberi pinjam pensilnya agar kita tetap bisa menyelesaikan ujian kita ; itu sederhana 
  17. Bahagia ketika seseorang menaruh sekotak makanan di dalam tas, yang niatnya hanya supaya kita tidak melewatkan makan siang ; itu sederhana
  18. Bahagia saat seseorang mengucapkan terimakasih untuk usaha yang kita lakukan ; itu sederhana
  19. Bahagia saat seseorang mendengar dengan seksama curahan hati kita ; itu sederhana
Dan banyak hal lain yang bisa membuat kita Bahagia tanpa perlu di imbangi dengan kemewahan harta dari nilai rupiah yang kita miliki melainkan cara seseorang yang Sederhana itu lebih Berharga dari apapun.

Sabtu, 07 September 2013

Si Penghianat ~

Allah,,,
sudah terlalu banyak orang-orang menyakiti hati ini, apa yang harus dilakukan ??


Pernahkah merasa dikhianati? Sungguh sakit rasanya dikhianati, ditusuk dari belakang, terlebih oleh orang yang kita kenal baik dan kita percayai. Tapi ingatlah bahwa kita ini hidup, hidup tak jalan selamanya mulus. ianya seperti roda yang akan terus berputar. Boleh jadi kali ini kita yang diberikan Allah ujian untuk merasakan sakitnya dikhianati. Tapi Allah tak pernah tidur. Allah Maha Adil. Apa-apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai; apapaun perlakuan kita terhadap orang lain hari ini, maka itulah yang akan kita dapatkan dari orang lain nantinya.. Roda kehidupan selalu berputar. Kita akan merasakan posisi di bawah juga di atas. Ketika sedang di bawah kita akan bertemankan dengan kesedihan, duka, dan macam-macam kesusahan. Tapi janganlah berlarut-larut. Berbahagialah karena sebentar lagi kita akan berada di atas. Dan jika kita sedang di atas, jangan kufur lagi takabur, tak lama lagi kita akan merasakan susahnya di bawah. Semua Allah ciptakan satu paket. Di balik kesedihan akan ada kebahagiaan, di ujung kegelapan akan ada cahaya terang, dan bersama kesulitan akan ada kemudahan. Percayalah..

Yang perlu diingat adalah janganlah kita membalas kejahatan dengan kebaikan. karena Allah pun telah menjelaskannya di dalam Al-Qur'an : " Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. " (Q.S. Fushilat : 34-35)
Ibnu 'Abbas -radiallaahu 'anhuma- mengatakan, "Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini."
Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Tiada suatu apapun yang salah perhitungannya. Allah Maha Tahu segala isi hati. Jangan bosan jadi orang baik. Dan Ingat, Allah selalu mengawasi kita, kapan dan dimanapun kita berada.
 
Terakhir,
Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam.
Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa.
Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim.
Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji.

(La Roche) 

Sabtu, 13 Juli 2013

Menunggu~

Sedang dalam pingitan Allah untuk pangeranku yg namanya telah Allah ukir di Lauhul Mahfudz.
Entah siapa dan dimana, saya yakin ia sedang memperbaiki dirinya, mendekatkan diri kepada sang Maha Cinta, sebelum akhirnya ia benar2 mencari lalu menemukan bagian dari tulang rusuknya (ʃ⌣ƪ)

Siapapun kamu, Ku tunggu kau di batas waktu calon imam shalat malamku.<3


Sabtu, 06 Juli 2013

Cantiknya Seorang Wanita ~





Mungkin pada sepasang matanya yang bening – yang selalu menjeling tajam atau yang kadangkala malu-malu memberikan kerlingan manja. Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menyerlahkan senyuman manis, atau yang sekali-sekala memberikan kucupan mesra di pipi. Atau mungkin juga pada hilai tawanya yang gemersik dan suara manjanya yang boleh melembutkan dan sekaligus menghangatkan perasaan! Sebenarnya sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan wanita. Seribu gurindam belum lengkap untuk mengambarkan keistimewaan Hawa.

Segala-galanya tentang tubuh seorang wanita adalah keindahan. Mata, bibir, hidung telinga, leher, dada, pinggang, pusat, punggung…… semuanya adalah keindahan.Pendek kata sekujur tubuh wanita, dari hujung rambut hingga hujung kaki, adalah keindahan. Setiap inci tubuhnya, termasuk sudut-sudut yang tersembunyi, adalah kecantikan penuh seni.

Sayangnya, kecantikan itu ada ketika-ketikanya, tidak dilihat dari sudut seni. Tubuh wanita dilihat lebih sebagai rangsangan untuk memenuhi naluri semulajadi manusia ; seks.

Dan sudut-sudut berseni ditubuh wanita pun tidak dinikmati atau dihayati secara seni, tetapi dieksploitasi untuk memenuhi dan memuaskan ego lelaki.
Tidak sahaja pada tubuh, apa sahaja yang dilakukan kaum Hawa adalah keindahan. Langkahnya yang longlai boleh menggetarkan jiwa lelaki, lenggang dan hayunan punggungnya boleh mendebarkan. Kenyitan matanya boleh terus menusuk kejantung hati.

Pendek kata, bagi wanita, kecantikan tubuh adalah segala-galanya. Dan mereka akan mempertahankan kecantikan itu. Tetapi, sekali lagi sayang, kecantikan itu tidak akan dapat dipertahankan. Mustahil, Kecantikan itu hanya sementara dan hanya menunggu masa untuk hilang. Bertapa pun dijaga dan dipelihara, bila tiba masanya, kulit akan berkedut, bibir akan kecut. Bila tiba masanya, wajah akan suram, mata akan cengkung.
Benarlah, tidak ada yang kekal untuk manusia biasa, tidak kira Adam atau Hawa. Kecantikan tubuh pasti akan hilang ditelan masa, dimakan usia. Hanya satu yang tidak dimakan usia dan kekal selamanya yaitu sopan santun dan budi bahasa. Inilah kecantikan sebenarnya!!!

Selasa, 04 Juni 2013

Sunset Bersama Rosie-Tere Liye






Hari ini selesai membaca novel “SUNSET BERSAMA ROSIE” nya Tere Liye. Sungguh mengagumkan. Beliau selalu bisa membuat pembaca berubah rubah-ekspresi, sedih, bahagia, kagum, kecewa, haru, dan entahlah apalagi namanya.

Dari 425 halaman, ada beberapa kalimat yang perlu saya pelajari, yang perlu saya mengerti, yang perlu saya pahami.

“Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan”.

“Tahukah kalian, dalam banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil. Mencari kekuatan, inspirasi, dan kebahagiaan melihat mereka”,

“Kalian lihat kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah. Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya bisa menyalakan ekornya semalaman, esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya”.

“Kalian lihat lilin-lilin merah itu. Indah. Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli itu menyakiti kita. Lilin ini hanya bisa hidup semalam, lantas setelah seluruh batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.”.

“Kau terlalu mencintai anak-anak, Tegar. Sama seperti dulu kau mencintai Rosie. Bukankah Oma pernah bilang, kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya”.
“Kau hanya membuang waktu disini, Tegar. Anakku, sungguh tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang. Menyakitkan memang. Tapi itulah takdir kalian. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu”.

“Itulah bedanya, Tegar. Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energy yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya.”

“Malam ini biarlah Oma beritahu kau sebuah kalimat dari sedikit kebijakan hidup. Kau tahu Tegar, dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan atas apa-apa yang kau kerjakan.”

“Masalahnya bukan waktu. Bukan waktu. Aku ikhlas, Tegar. Pergilah. Kau memiliki kehidupan disini. Dan aku ternyata tidak akan bisa meneguhkan diri untuk menerima sepotong kehidupanmu disini. Ya Tuhan, dulu aku pikir aku bisa menerimanya, ternyata tidak. Aku egois. Ingin utuh memilikimu. Tanpa berbagi.”

“Bukankah Uncle selalu bilang kita tidak boleh melupakan masa lalu. Berdamai tapi tidak melupakan”.

“Kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang mengerti. Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”

“Sepertinya itu tidak mudah dipahami, Mas Tegar. Mencintai dengan pengertian dan pemahaman cinta yang berbeda.”

“ Aku tidak pernah merasakan bagaimana indahnya dicintai seorang lelaki seperti kau mencintai Rosie. Entahlah apa itu menyenangkan atau menakutkan.”
“Bagi kami jauh lebih baik menikah dengan orang yang mencintai, bukan dengan orang yang dicintai.”

“Kau keliru, Sekar. Kalimat itu dusta. Berikan aku waktu seminggu, kau masih punya kesempatan, asal kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini. Aku mohon. Percayalah.”

“Paman Tegar tidak pernah melarang. Paman Tegar hanya memberikan pengertian. Paman Tegar tidak pernah keberatan. Paman Tegar hanya menjelaskan”.

“Sudah cukup, Mas Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan ? dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu.”

“Begitulah. Jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya selintas terjadinya. Bahkan dalam banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita dengan mudah membuatnya terjadi.”

“Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba disan, bukan ? bisa jadi aku kecewa setelah benar-benar tiba disana, ternyata semua itu tidak sehebat yang kubayangkan. Dengan mengurungkan menjejaknya walau tinggal selangkah, semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan.”

“Apakah dunia memang begitu ? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya.”

“Kau dulu sering bertanya apakah kau punya kesempatan ? menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. Betapa tidak beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan nasib. Tapi itu tidak buruk. Bukan sebuah kesalahan. Maka biarkanlah seperti itu selamanya. Juga untuk urusan malam ini, biarkanlah seperti itu. Andaikata takdir itu memang baik untuk kalian, maka aka nada sesuatu yang bisa membelokkan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka seperti yang aku bilang, tidak pernah ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang, Anakku.”

“Siang tadi aku belajar satu makna kata penting yang seharusnya selalu disampirkan dengan kata kesempatan, yaitu kata cukup. Oma benar. Semua gurat takdir ini mungkin kejam. Aku tidak pernah berani membuat kesempatan, karena aku terlanjur mempercayai sepenuhnya janji kehidupan. Malam ini, biarlah semuanya terasa lengkap. Sempurna. Aku titipkan semua urusan ini kepada-Mu, Tuhan. Jika Engkau mengehendaki mawar itu tumbuh di atas tegarnya karang, maka biarlah itu terjadi.”

“Pagi ini aku paham, aku mengerti, kalian ditakdirkan bersama sejak kecil. Aku sungguh akan belajar bahagia menerimanya, dan itu akan lebih mudah dengan pemahaman yang baru. Aku akan baik-baik saja.”

“Pagi itu aku akhirnya mengerti arti kata kesempatan. Mawar akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendakinya.”

Kupu-kupu berterbangan,
Melintas di bebungaan
Semerbak wangi melambai,
Menjanjikan kebahagiaan
Kabut memenuhi langit-langit,
Putih indah mempesona
Embun merekah kemilau,
Menjanjikan kebahagiaan
Cahaya matahari pagi,
Melintas di sela dedauanan
Berlarik-larik mengambang
Menjanjikan kebahagiaan